Assalamu'alaikum . . Wr. Wb. . Selamat Datang Di Bloggnya SMP Muhammadiyah Plus Cibiuk-Garut_Mohon Maaf Apabila Terdapat Banyak Kesalahan dan Kekurangan . . . Wassalam Wr. Wb . .

Sabtu, 24 Maret 2012

Sejak Kecil Dianggap Sudah Memiliki Keistimewaan

Sejak Kecil Dianggap Sudah Memiliki Keistimewaan

Cabup Garut Kholiq Fikri di Mata Kedua Orang Tuanya


Ceng Kholiq Fikri hampir dipastikan menjadi Bupati Garut terpilih. Ia berpasangan dengan Raden Dicky Chandra. Bagaimana Ceng Fikri yang sering dipangil Enjang di mata kedua orang tuanya?

ARI MAULANA KARANG, Garut

Ceng Fikri lahir dari pasangan KH Kholil Munawar dan Hj Aat Atmillah yang tinggal di Kelurahan Sukamenteri Kecamatan Garut Kota. Keluarga besar KH Kholil memanggil Ceng Fikiri dengan sebutan Enjang. ”Sejak kecil memang biasa dipanggil Enjang oleh seluruh keluarga besar. Ini ungkapan kadeudeuh saya dan istri yang telah lama menantikan kehadiran seorang anak,” ujar KH Kholil kepada Radar, kemarin.

Ceng Fikri memiliki empat saudara perempuan, yaitu Ende Misbach, Nur Syifa, Nur Hidayati, Nadia Alawiyah dan seorang saudara laki–laki, Munawar. Sejak kecil Ceng Fikri dianggap memiliki keistimewaan. Di usia 10 bulan Ceng Fikri telah mampu berlari layaknya bayi umur dua tahun.

Ceng Fikri menjalani masa kecilnya di Kelurahan Sukamenteri. Lulus dari SDN Sukamenteri, ia melanjutan pendidikan ke Madrasah Tsanawiyah Negeri Garut dan Pendidikan Agama Negeri Garut. Ia kuliah sekaligus mondok di Ponpes Tebu Ireng Jombang. ”Karena rasa khawatir yang cukup tinggi dari ibunya, akhirnya setelah dua tahun di Tebu Ireng, Enjang melanjutkan kuliahnya di Musadaddiyah,” jelas KH Kholil.

KH Kholil mengatakan Fikri dikenal sebagai tempat bertanya rekan–rekan kuliahnya. Semasa kuliah dulu banyak rekannya yang datang ke rumah untuk berkonsultasi tentang berbagai hal. ”Sejak kecil Enjang memang dikolotkeun oleh rekan–rekan bermainnya dan itu terbawa sampai masa kuliah,” katanya.

Nah, sebelum mencalonkan diri sebagai bupati, Ceng Fikri sempat meminta restu kepada kedua orang tuanya. Saat itu, KH Kholil sempat bertanya kepada Ceng Fikri mengenai dasar pencalonan dirinya. Kala itu, Enjang mengaku berniat membangun kembali Garut dari keterpurukan. ”Permohonannya tidak langsung saya restui saat itu, saya meminta satu minggu untuk memberi jawabannya. Setelah meminta petunjuk kepada Allah, saya bermimpi rumah saya ditaburi bintang yang bersinar terang. Dari situ saya memberikannya izin untuk maju menjadi calon bupati,” ungkap KH Kholil.

Sejak pilkada putaran pertama lalu, KH Kholil yakin putranya akan memenangi pilkada. Keyakinan dirinya bertambah besar setelah pilkada menjadi putaran. Sekarang KH Kholil berharap anak sulungnya dapat membawa perubahan bagi Kabupaten Garut.
Dia yakin dengan modal yang diberikan orang tua, Ceng Fikri dapat memberi yang terbaik bagi Garut. ”Saya selalu menanamkan hidup mulia. Mati dengan syahid untuk membela rakyat, ini pasti dijadikan pijakan Enjang untuk membangun Garut lima tahun ke depan,” ujarnya.

0 komentar:

Poskan Komentar